LEBONG, kagangatoday.com– Bencana alam yang berulang atau musibah yang datang tanpa perintang boleh jadi adalah penanda semesta yang sedang tak baik baik saja. Sebab manusia lupa bersyukur atas kasih karunia sang Pencipta. Atau mengabaikan petuah para leluhur.
“Sebab bumai panes yang ditandai dengan kejadian-kejadian buruk. Binatang buas masuk desa dan pertanda lainnya,” ucap Arianto, Ketua Badan Masyarakat Adat Kabupaten Lebong, Kamis (24/6/2026) dalam sambutannya di acara Tepung Bumai Kedurai Agung yang dipusatkan di Desa Tunggang, Lebong Utara.
Persis di tepi sungai Bioa Temiang, yakni titik pertemuan dua aliran sungai, yakni Ketahun dan Kotok, acara itu disaksikan oleh ratusan sorot mata dan kamera digital. Acara ini disebut sudah lama tak digelar. Nyaris 20 tahun.
Prosesi Tepung Bumai Kedurai Agung ini diawali dengan permohonan izin dari BMA kepada raja atau disebut dengan iben pena’ok. Lalu dilanjutkan dengan meretaw: meminta izin sekaligus memberi tahu kepada para leluhur maksud dan tujuan acara. Prosesi ini dipimpin oleh seorang pria yang disebut tukang meretaw. Setelah maksud diucapkan, maaf disampaikan, tukang meretaw lalu memercik tepung setawar kepada para pemangku pemerintahan dan adat.
“Kedurai ini adalah momentum memohon ampun kepada Tuhan YME atas kesalahan-kesalahan, dan permintaan maaf kepada leluhur agar ke depan pembangunan Lebong bisa mendapatkan ridho dan restu,” kata Arianto.
Arianto lalu mengajak semua pihak untuk bahu membahu membangun bumi Swarang Patang Stumang ini demi mewujudkan masyarakat yang maju dan sejahtera.
“Marilah kita bergandengan tangan, menjunjung adat budaya Rejang. Kalau ada kritik, tetap junjung etika dan adat budaya kita,” ujar Arianto.
Lebih lanjut, Arianto berharap Kedurai Agung bisa terus dilestarikan dan menjadi ikon daerah sehingga bisa ikut mendorong pembangunan berkelanjutan, terutama dari sektor pariwisata. “Seperti tabut (Kota Bengkulu),” ujarnya.
Bupati Lebong, H. Azhari, SH., MH., mengapresiasi BMA yang telah menyelenggarakan Kedurai Agung tersebut. Apalagi tradisi masyarakat Rejang di Lebong ini sudah 20 tahun tidak pernah lagi dilaksanakan.
“Kedurai adalah ucapan syukur. Ibarat iben (sirih) yang mulanya pahit tapi akhirnya terasa manis. Begitu pula seperti yang kita alami. Setelah bencana, kita baru saja menerima penghargaan tertinggi dalam pengelolaan keuangan, yakni WTP dari BPK,” ujar Azhari.
Prestasi ini, kata Azhari, bukan semata-mata berkat kerja keras pemerintah, tetapi juga dukungan masyarakat Lebong dan semua pihak. Bupati berharap capaian ini bisa dipertahankan.
Menanggapi harapan BMA, Bupati Azhari meminta agar BMA terus menelusuri dan menggali adat istiadat dan kearifan lokal masyarakat Rejang. Azhari menyatakan, Rejang adalah suku yang tersebar di Nusantara.
“Saat masih bertugas di Kalimantan, saya lihat di musium di sana ada jejak suku Rejang. Termasuk kaganga. Bahkan ada panglima perangnya bersuku Rejang,” cerita Azhari.
Karena itu pula, Azhari menilai Kedurai Agung ini sebagai momentum bersama untuk membangun daerah. “Kita tidak boleh lengah. Pembangunan fisik juga harus mempertimbangkan kondisi geografis Lebong yang rawan bencana,” tegas Azhari.
Bupati Azhari menekankan agar semua pihak tetap menjaga hutan, tidak membuang sampah sembarang, dan menggalakkan lagi budaya gotong-royong. “Mitigasi bencana dan perlunya kesadaran bersama juga penting,” katanya.
Yang tidak kalah penting, Azhari juga mengingatkan kepada BMA agar mengawal komitmen pemerintah daerah untuk melahirkan Perda Adat Lebong. “Saya minta BMA bekerja. Mari kita kawal agar Perda Adat ini terbit. Ini akan jadi kompas moral. Dengan berpayung hukum, artinya adat Lebong diakui negara,” jelas Azhari.
Selain melalui kedurai, kata Azhari, Pemda Lebong juga bakal menggelar doa dan zikir bersama. “Makanya, saya instruksikan kepada camat agar menggelar doa dan zikir bersama di masjid pada setiap Jumat. Dan pada 22 Juni nanti, kita juga akan gelar zikir akbar di Masjid Agung. Kita memohon pertolongan Tuhan YME agar Lebong jauh dari bencana,” tandasnya. (**)









🙏🙏izin ade serambeak jang maaf seandainya salah.
Jibeak temkek taneak betuak, jibeak mlat adat beca’o, jibeak mlakeak agamo betiang.
Serambeak ini sebelum masuk adat minang : adat besandi jo sara, sara besandi jo kitabullah.
Pada dasarnya serambeak jang tegas.
Maaf pengetahuan saya sedikit🙏🙏