LEBONG, kagangatoday.com– Terjangan banjir bandang sungai Ketahun pada 7 Mei 2026 masih menyisakan persoalan. Khususnya bagi petani di 10 desa dengan luasan persawahan lebih dari 1.500 hektar di wilayah Lebong.
Persoalan itu adalah sedimentasi di mulut dan saluran pengantar irigasi DAM Sungai Ketahun di Desa Pungguk Pedaro, Kecamatan Bingin Kuning. Tebalnya sedimentasi yang mencapai lebih dari satu meter membuat debit dan tekanan aliran air berkurang cukup besar.
Koordinator Kelompok Tani Telaga Makmur, Nurkholis Sastro, mengatakan sedimentasi tersebut memicu kekeringan di lebih dari 8 desa atau lebih dari 1.500 ha areal persawahan. “Padahal masa pengolahan lahan dan berkolam sudah mulai berjalan. Tetapi para petani di 10 desa belum dapat melakukan pengolahan lahan dengan mesin bajak hand traktor,” ujarnya, Kamis (11/6/2026) petang.
Atas inisiatif beberapa kelompok, lanjut Sastro, mereka mencoba membuat surat ke BWSS 7 dan PUPR Provinsi Bengkulu Bidang Sumberdaya Air selaku pemangku DAM dan Irigasi tersebut. Selain itu para petani dari desa Tunggang, Tangua, Sukomargo, Sukarjo, Sungai Gerong, Nangai Amen dan beberapa PPL, termasuk petugas BWSS 7 dan beberapa penjaga pintu air melakukan gotong-royong pengurasan.
“Namun, aksi gotong-royong ini belum maksimal, endapan sedimentasi masih tebal. Butuh minimal dua kali lagi gotong-royong,” tambahnya.
Karena itu, para petani berharap pihak BWSS 7 dan PUPR Provinsi Bengkulu bisa melakukan pengerukan sedimentasi pasca banjir Mei 2026 lalu. Pengerukan ini penting untuk mendukung musim tanam mulai awal Agustus 2026.
“Tanpa ketercukupan air, akan berdampak pada proses pengolahan lahan dan pertumbuhan padi yang tidak maksimal,” katanya.
Lebih lanjut, Sastro mengingatkan bahwa ke depan penting bagi pihak BWSS 7 mengaplikasikan peralatan pengetuk khusus di DAM Sungai Ketahun ini, mengingat siklus banjir yang semakin sering terjadi di Lebong.
“Para petani juga meminta pihak BWSS 7 dan PUPR Provinsi Bengkulu melakukan pengurasan minimal 2 kali dalam setahun. Baik di saluran pengantar DAM maupun di saluran BK 1. Para petani keberatan kalau setiap tahun harus gotong-royong dan pengurasan sedimentasi yang memang cepat terjadi. Ini bagian bentuk komitmen BWSS 7 dan PUPR Provinsi Bengkulu untuk memperkuat program ketahanan pangan,” tandasnya. (**)









Komentar