Eksistensi Digital Dalam Pembentukan Identitas Remaja: Dampaknya Terhadap Kesehatan Mental

Selasa, 26 Mei 2026 - 21:31 WIB

facebook twitter whatsapp telegram copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon copy

URL berhasil dicopy

Di era media sosial seperti TikTok dan Instagram, cara remaja menunjukkan eksistensinya sudah banyak berubah. Keberadaan seseorang tidak lagi hanya dilihat dari kehidupan nyata, tetapi juga dari bagaimana mereka tampil di dunia digital. Media sosial menjadi ruang penting untuk mengekspresikan diri sekaligus membentuk identitas.

Fenomena tersebut dapat dijelaskan melalui teori Dramaturgi yang dikemukakan oleh Erving Goffman. Menurut Goffman, kehidupan sosial diibaratkan seperti sebuah panggung pertunjukan, di mana setiap individu berusaha menampilkan citra terbaik dirinya di hadapan orang lain. Dalam konteks media sosial, remaja cenderung menunjukkan sisi kehidupan yang terlihat menarik, bahagia, dan sempurna agar mendapatkan pengakuan sosial dari orang lain.

Sementara itu, sisi asli dari diri mereka sering kali tidak diperlihatkan kepada publik. Hal ini menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya menjadi tempat berkomunikasi, tetapi juga menjadi ruang untuk membangun citra diri dan eksistensi digital (Goffman, E.1959).

Masalahnya, fenomena yang terjadi saat ini justru menunjukkan bahwa banyak remaja mulai terjebak pada kebutuhan akan pengakuan. Ukuran eksistensi sering kali dilihat dari jumlah like, komentar, dan followers. Ketika unggahan tidak mendapat respons yang diharapkan, muncul rasa kecewa, bahkan insecure.

Hal ini didukung oleh penelitian terbaru yang menunjukkan bahwa penggunaan media sosial berkaitan dengan munculnya emosi negatif seperti kecemasan dan rasa tidak percaya diri pada remaja (Putri dan Ambarwati, 2022). Kondisi ini juga memunculkan tekanan sosial bagi remaja untuk selalu tampil sempurna serta takut mendapatkan penilaian negatif dari orang lain di media sosial (Winstone et al., 2022).

Kondisi ini berkaitan dengan munculnya Fear of Missing Out (FOMO), yaitu perasaan takut tertinggal dari apa yang dilakukan orang lain di media sosial. FOMO sendiri diketahui berkaitan dengan meningkatnya kecemasan dan penggunaan media sosial yang berlebihan (Li et al., 2024). Remaja cenderung membandingkan dirinya dengan kehidupan orang lain yang terlihat lebih menarik atau lebih “sempurna”. Kebiasaan ini dapat memicu perasaan tidak puas terhadap diri sendiri (Sari & Suryanto, 2022).

Fenomena ini bahkan berkembang lebih jauh. Saat ini, sudah banyak praktik membeli like dan followers agar terlihat lebih populer, terutama di platform seperti Instagram dan TikTok. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi digital tidak selalu dibangun secara alami, tetapi juga bisa dibentuk secara instan. Sayangnya, validasi seperti ini bersifat semu dan tidak benar-benar mencerminkan nilai diri seseorang.

Fenomena ini bukan sekadar asumsi, tetapi sudah menjadi praktik nyata di berbagai negara, termasuk Indonesia. Pada tahun 2019, sebuah perusahaan pemasaran digital internasional, HypeAuditor, mengungkapkan bahwa jutaan akun Instagram di dunia terindikasi menggunakan followers palsu. Bahkan, sejumlah influencer diketahui membeli pengikut untuk meningkatkan citra popularitas mereka di mata publik dan brand.

Di Indonesia sendiri, praktik ini juga marak, di mana jasa penambah followers dan like dapat dengan mudah ditemukan di berbagai platform online dengan harga yang relatif murah. Hal ini menunjukkan bahwa eksistensi digital tidak lagi sepenuhnya mencerminkan realitas, melainkan bisa dimanipulasi demi mendapatkan pengakuan sosial secara instan.

Selain itu, kasus cyberbullying juga semakin sering terjadi. Komentar negatif di media sosial dapat memberikan tekanan psikologis yang tidak ringan, terutama bagi remaja yang masih berada dalam tahap pencarian jati diri (Nugroho dan Anisa, 2023)

Kasus cyberbullying juga telah banyak terjadi dan memberikan dampak serius. Salah satu contoh yang sempat menjadi perhatian publik adalah kasus yang dialami oleh Awkarin pada awal popularitasnya di media sosial. Ia menerima banyak komentar negatif, hujatan, bahkan ujaran kebencian yang berdampak pada kondisi mentalnya.

Selain itu, secara global, kasus tragis seperti yang dialami oleh Amanda Todd menunjukkan bagaimana tekanan dari dunia digital dapat berujung pada gangguan mental yang serius. Kasus-kasus ini memperlihatkan bahwa cyberbullying bukan sekadar candaan di dunia maya, melainkan ancaman nyata yang dapat memengaruhi kesehatan psikologis, terutama pada remaja.

Meskipun demikian, media sosial tidak selalu memberikan dampak negatif. Di sisi lain, platform digital juga dapat menjadi sarana untuk mengekspresikan kreativitas, membangun relasi, bahkan membuka peluang baru bagi remaja. Banyak anak muda yang justru berkembang karena mampu memanfaatkan media sosial secara positif.

Menurut saya, permasalahan utama dalam fenomena ini sebenarnya bukan terletak pada keberadaan media sosial itu sendiri, melainkan pada cara penggunaannya. Ketika nilai diri seseorang mulai bergantung pada angka-angka digital seperti jumlah like, komentar, atau followers, maka identitas diri menjadi rentan dan mudah terpengaruh oleh penilaian orang lain. Kondisi ini secara tidak langsung membuat remaja lebih fokus pada bagaimana mereka dipandang, daripada memahami siapa diri mereka sebenarnya.

Fenomena seperti FOMO dan kebiasaan mencari validasi digital, bahkan hingga membeli like atau followers, menunjukkan adanya pergeseran cara remaja dalam menilai diri. Pengakuan yang seharusnya datang dari proses nyata justru digantikan oleh pencapaian yang bersifat instan dan simbolik.

Jika hal ini terus berlangsung, dikhawatirkan dapat membentuk pola pikir yang kurang sehat dalam memandang diri sendiri. Penggunaan media sosial yang tidak terkontrol memang sering dikaitkan dengan menurunnya kesehatan mental remaja (Pratama & Wulandari, 2023).

Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk mulai membangun kesadaran bahwa media sosial hanyalah salah satu ruang ekspresi, bukan ukuran utama dalam menentukan nilai diri. Dengan pemahaman yang lebih bijak, eksistensi digital seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana pengembangan diri, bukan menjadi sumber tekanan yang justru berdampak negatif terhadap kesehatan mental.


Penulis: Lestri Yulita

Mahasiswa Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Bengkulu.

 

Berita Terkait

Wisatawan Italia Terpesona Air Putih Lebong, Puji Keindahan Alam dan Kebersihan Kawasan
Bupati Lebong Apresiasi TC Pramuka di Air Putih
TC Pramuka Kwarcab Lebong, Peserta Dilatih SRT, Antusias Amati Ular 
Pengelola Wisata Air Putih Ajak Pramuka Lebong Berkolaborasi
Tepung Bumai Kedurai Agung: Bersyukur dan Memohon Ampunan Sang Khalik dan Maaf Leluhur
Mitigasi Bencana & Kolaborasi Pemulihan DAS: Upaya Menyelamatkan Penghidupan Masyarakat Lebong
Berita ini 15 kali dibaca

Komentar

Tuliskan komentar terbaikmu dengan sopan 😊

Berita Terkait

Selasa, 30 Juni 2026 - 14:54 WIB

Wisatawan Italia Terpesona Air Putih Lebong, Puji Keindahan Alam dan Kebersihan Kawasan

Senin, 22 Juni 2026 - 01:06 WIB

Bupati Lebong Apresiasi TC Pramuka di Air Putih

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:15 WIB

TC Pramuka Kwarcab Lebong, Peserta Dilatih SRT, Antusias Amati Ular 

Minggu, 7 Juni 2026 - 21:31 WIB

Pengelola Wisata Air Putih Ajak Pramuka Lebong Berkolaborasi

Jumat, 5 Juni 2026 - 22:19 WIB

Tepung Bumai Kedurai Agung: Bersyukur dan Memohon Ampunan Sang Khalik dan Maaf Leluhur

Berita Terbaru

Daerah

Menggagas Jalan Perubahan DAS Ketahun di Lebong

Rabu, 24 Jun 2026 - 12:52 WIB

BUDAYA DAN WISATA

Bupati Lebong Apresiasi TC Pramuka di Air Putih

Senin, 22 Jun 2026 - 01:06 WIB

BUDAYA DAN WISATA

TC Pramuka Kwarcab Lebong, Peserta Dilatih SRT, Antusias Amati Ular 

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:15 WIB